Bung Karno pernah berkata, “Barang siapa yang menginginkan mutiara, maka ia harus terjun di lautan yang dalam” Begitu juga yang telah disampaikan oleh bapak Rektor Dr. Kurniawan, S.T,. M.Si, bahwasanya “Barang siapa ingin hidupnya bermanfaat, maka Trilogi Nusa Putra lah salah satu kuncinya”.
“Mencari ilmu adalah
proses seumur hidup. Bilamana kau merasa cukup, itulah tanda-tanda dari
kebodohan.” - Yoga Mulyana
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam keabsahan Tirlogi
Nusa Putra memang tidak dapat dipungkiri, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh
diri sendiri melainkan untuk orang-orang sekitar. Begitu banyak kebaikan yang
tampak sangat kentara jika kita memaknainya lebih dalam.
Terlebih, bagi saya yang saat ini tengah memasuki semester 6
Ilmu Hukum—rasanya sebagai mahasiswa tentu harus mengimplementasikan Trilogi
tersebut, mulai dari Amor Deus, Amor Parentium, dan Amor Cocncervis.
Tetapi sebelum itu, perkenalkan saya Yoga Mulyana—orang-orang
biasa manggil saya Yoga, Emul, atau Kobel. Ya, begitulah keanekaragaman hidup
ini. Pada akhirnya kita akan mencari hal-hal yang membuat hidup ini merasa
nyaman, tidak hanya melalui nama panggilan, akan tetapi dengan mengamalkan
Trilogi juga.
1. Bagian 1: Amor Deus (Menimba ilmu di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya)
Amor
Deus, memiliki definisi sebagai sebuah cinta kasih kepada Tuhan. Berbicara
perihal cinta kasih kepada Tuhan, tentu saja ada begitu banyak contohnya. Mulai
dari hal-hal yang sangat sederhana hingga hal yang luar biasa.
Salah
satu pengimpelementasian yang saya lakukan adalah dengan menimba ilmu di Pesantren
Surlaya Tasikmalaya. Kegiatan ini saya lakukan bukan karena suruhan maupun
tuntutan, melainkan karena suatu kebutuhan lah yang mengantarkan saya berada di
lingkungan pesantren.
Saya
menyadari betul betapa pentingnya mempelajari ilmu agama secara lebih dalam.
Pasalnya, seperti yang kita ketahui bersama bahwa ilmu agama tidak hanya bekal
untuk di akhirat saja, akan tetapi bekal hidup damai di dunia juga.
Oleh karenanya, dengan menimba ilmu ini saya berusaha untuk menjalankan seluruh perintah-Nya atas landasan keinginan dan kebutuhan. Ada begitu banyak ilmu agama yang saya dapatkan, Namun, meskipun demikian saya tetap merasa kekurangan karena proses mencari ilmu tidak hanya cukup sampai di sini saja, akan tetapi proses seumur hidup.
Bagian 2: Amor Parentium (Bersungguh-sungguh menjalankan aktivitas perkuliahan sebagai bakti paling ulung)
Melihat
senyum yang begitu indah dari raut wajah orang tua rasanya seperti mendapat
kado terindah di dalam hidup ini. Betapa tidak, sebab mereka maka saya ada di
dunia, hati anak mana yang tak bahagia melihat orang tuanya bahagia juga?
Amor
Parentium atau cinta kasih kepada orang tua ini sudah pasti dan tentunya sudah
saya lakukan jauh sebelum masuk Universitas Nusa Putra. Karena memang begitulah
adanya, banyak bakti yang tercurah dari hati nurani untuk mengikuti perintah
kedua orang tua.
Saya
percaya, dengan didukungnya saya melanjutkan pendidikan S1 ini, itu artinya
cinta kasih yang mereka berikan bukan main-main. Sudah sepantasnya saya
bersungguh-sungguh menjalankan aktivitas perkuliahan sebagai bukti bakti paling
ulung.
Pada dasarnya tidak hanya ini saja, akan tetapi ketika berada di rumah pun saya selalu berusaha untuk membantu meringankan sedikit pekerjaan mereka—entah dengan membantu mencuci piring kotor, menyapu debu lantai, atau membantu memasak mie di kala waktu-waktu senggang untuk disantap bersama sembari menyambung obrolan hangat. Sungguh, hal-hal sederhana itu justru menumbuhkan cinta kasih yang semakin dalam.
Bagian 3: Amor Concervis (Menjaga hubungan baik dengan sesama)
Sebagai
makhluk sosial, di dalam Islam ada yang
namanya habluminannas yaitu menjaga
hubungan baik dengan sesama manusia. Mengapa hal ini sangat dianjurkan? Tentu
saja karena dalam hidup ini yang kita butuhkan bersama adalah kedamaian da
untuk mendapatkan kedamaian itu salah satu kuncinya adalah menjaga hubungan
baik.
Amor
Concervis memiliki makna yang sangat besar bagi kita semua. Dengan menjaga
hubungan baik, di situlah kita akan menemukan ribuan kebaikan lainnya yang
dapat mempermudah kehidupan. Dari sini saya mengerti mengapa Universitas Nusa
Putra menjadikan Amor Concervis sebagai salah satu yang masuk ke dalam Trilogi
Kampus.
Tidak
hanya menjaga hubungan baik dengan rekan se-jurusan atau rekan di kampus, akan
tetapi menjaga hubungan baik harus dilakukan dengan siapa saja, salah satunya
dengan rekan lama SMA. Meskipun mungkin tidak lagi menempuh pendidikan di
lembaga yang sama, akan tetapi jangan sampai terhalang oleh hal itu.
Dengan demikian, Trilogi Universitas Nusa Putra ini mengandung makna yang sangat mendalam. Substansi yang ada di dalamnya tidak hanya saya rasakan ketika duduk di bangku perkuliahan saja, akan tetapi jauh sebelum itu pun saya merasakan manfaat yang sangat luar biasa dengan mengamalkan Amor Deus, Amor Parentium, dan Amor Concervis.
#UniversitasNusaPutra
#Triloginusaputra
#Kenusaputraan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar